Wednesday, October 3, 2012

Pengendalian Aedes Aegypti dengan Thermal Fogging Menggunakan Insektisida


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan Aedes albopitus. Faktor – faktor  yang mempengaruhi kejadian Demam Berdarah Dengue sangat kompleks, antara lain iklim dan pergantian musim, kepadatan penduduk, mobilitas penduduk dan transportasi. Berdasarkan kejadian dilapangan dapat diidentifikasikan factor utama adalah kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal. Sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan berkembangnya nyamuk. Insiden dan prevalensi penyakit Demam Berdarah Dengue menimbulkan kerugian pada individu, keluarga dan masyarakat. Kerugian ini berbentuk kematian, penderitaan, kesakitan, dan hilangnya waktu produktif.
Penyakit demam berdarah dengue menjadi momok tiap tahun. Insiden di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989-1995) dan pernah meningkat tajam saat Kejadian Luar Biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, hingga tahun  2005 masih ada daerah berstatus Kejadian Luar Biasa, sampai mei tahun 2005 di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus dengan jumlah kematian 348 orang, hingga awal oktober 2005 kasus demam berdarah dengue di 33 propinsi tercatat 50.196 kasus dengan 701 diantaranya meninggal. Dari data di atas menunjukkan peningkatan hampir 2 kali lipat dari mei hingga awal oktober 2005.
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang bisa mewabah. Usaha untuk mengatasi masalah penyakit tersebut di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan, berbagai upaya pemberantasan vector, tetapi hasilnya belum optimal. Secara teoritis ada empat cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan tujuh cara yaitu dengan cara kimiawi, mekanis, fisik, biologis, biofisikal, secara undang-undang dan integrasi. Namun angka penderita dan kematian demam berdarah selalu meningkat. Penulis menyadari perlu adanya pengetahuan tentang formulasi baru, guna memenuhi kebutuhan di daerah dalam penyediaan insektisida alternatif sebagai salah satu pengendalian vector dengan cara kimiawi yang sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai salah satu program kerja kesehatan.
  B.   Rumusan Masalah
1.    Bagaimana dosis efektif dari thermal fogging dalam pengendalian aedes aegypti sebagai vector demam berdarah dengue ?
2.    Apakah dampak kesehatan dari thermal fogging sebagai bentuk pengendalian vector demam berdarah dengue ?
3.    Apabila memiliki dampak negative bagi kesehatan, bagaimanakah solusi yang tepat untuk meminimalisir dampak dari thermal fogging ?
C.   Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk:
1.    Mengetahui dosis efektif dari thermal fogging dalam pengendalian aedes aegypti sebagai vector demam berdarah dengue.
2.    Mengetahui dampak kesehatan dari thermal fogging sebagai bentuk pengendalian vector demam berdarah dengue.
3.    Mengetahui solusi yang tepat untuk meminimalisir dampak dari thermal fogging.
 D.   Manfaat Penulisan
1.    Diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan tentang pengendalian vektor demam berdarah dengue secara kimia.
2.    Diharapkan dapat dijadikan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Pengertian Demam  Berdarah
Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue adalah kegiatan mamberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) di tempat – tempat perkembengbiakannya.
B.   Penyebab Demam Berdarah
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari famili flaviviridae dan genus flaviviridae. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. serotipe yang menyebabkan infeksi paling berat di Indonesia, yaitu DEN-3. virus dengue berukuran 35-45 nm.
C.   Cara Penularan Demam Berdarah
Penyakit DBD ditularkan orang yang didalam darahnya terdapat virus dengue. Orang ini bisa menunjukan gejala sakit, tetapi juga bisa tidak sakit, yaitu juka mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus dengue. Jika orang digigit nyamuk aedes aegypti maka virus dengue masuk bersama darah yang diisapnya. Didalam tubuh nyamuk itu, virus dengue akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar diseluruh bagian tubuh nyamuk. Sebagian besar virus itu berada dalam kelenjar liur nyamuk. Dalam tempo 1 minggu jumlahnya dapat mencapai atau puluhan bahkan ratusan ribu sehingga siap untuk ditularkan/dipindahkan pada orang lain, maka setelah alat tusuk (probosis) menemukan kapiler darah sebelum darah orang itu dihisap, terlebih dulu dikeluarkan air liur dari kelenjar liurnya agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama dengan liur nyamuk inilah, virus dengue dipindahkan kepada orang lain. (Masjoer, 2001)
D.   Cara Memberantas Nyamuk Penular DBD
a.    Pemberantasan Nyamuk (Dewasa)
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan/pengasapan (fogging) dengan insektisida. Hal ini dilakukan mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung, karena itu tidak dilakukan penyemprotan di dinding rumah. Insektisida yang dapat digunakan ialah insektisida golongan :
1.    Organophospate, misalnya malathion, fenitrothion.
2.    Pyretroid sintetic, misalnya lamda sihalotrin, permetrin.
3.    Carbamat.
Alat yang digunakan untuk menyemprot ialah mesin Fog atau ULV. Penyemprotan dilakukan dengan cara pengasapan sehingga tidak mempunyai efek residu. Penyemprotan insektisida ini dilakukan 2 siklus dengan interval 1 minggu untuk membatasi penularan virus dengue. Pada penyemprotan siklus I, semuanyamuk yang mengandung virus dengue (nyamuk infektif) dan nyamuk-nyamuk lainnya akan mati. Tetapi akan segera muncul nyamuk-nyamuk baru yang diantaranya akan menghisap darah penderita viremia yang masih ada setelah penyemprotan siklus I, yang selanjutnya dapat menimbulkan penularan virus dengue lagi. Oleh karena itu perlu dilakukan penyemprotan siklus ke II. Dengan penyemprotan yang ke II satu minggu setelah penyemprotan yang I, nyamuk baru yang infektif ini akan terbasmi sebelum sempat menularkan pada orang lain. Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasi penularan, akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentiknya agar populasi nyamuk penular dapat ditekan serendah-rendahnya. Sehingga apabila ada penderita DBD atau orang dengan viremia tidak dapat menular kepada orang lain.
b.    Pemberantasan Jentik
Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dilakukan dengan cara :
1.    Kimia : Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini dikenal dengan istilah abatisasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah temephos. Formulasi temephos yang digunakan ialah granules (sand granules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram (+ 1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Abatisasi dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. Selain itu dapat digunakan pula Bacillus thuringiensis varisraeliensis (Bti) atau golongan insect growth regulator.
2.    Biologi : Misalnya memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi).
3.    Fisik : Cara ini dikenal dengan kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur) yaitu menguras bak mandi atau WC, menutup tempat-penampungan air rumah tangga (tempayan, drum dan lain-lain), serta mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas (seperti : kaleng, ban dan lain-lain). Pengurasan tempat-tempat penampungan air (TPA) perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak di tempat itu.
E.   Prinsip Pengendalian Vector Terpadu (PVT)
Prinsip dasar PVT adalah surveilan epidemiologi dan entomologis, manajemen lingkungan sehat, kajian bioteknologi serangga vector, sosialisasi dan program aksi kesehatan lintas instansi, partisipasi aktif masyarakat. Prinsip dasar itu dikembangkan dari tetra hedron hubungan vector dan inang, lingkungan dan manusia sebagai factor utama yang patut menyadari posisinya dalam pengelolaan terpadu vector penyakit tersebut. Terkait dengan vector tersebut, perlu diketahui spesiesnya, sifat bioekologisnya dan sifat penularan virusnya. Berkaitan dengan inang perlu juga diketahui kepadatan, karakteristik social budayanya. Factor lingkungan seperti diuraikan sebelumnya mencakup lingkunagn biotic. Dan abiotik yang erat hubungannya dengan dinamika populasi vector.
Pada tahun 1980 WHO telah memberikan model pengelolaan lingkungan untuk tujuan pengendalian vector DBD melalui modifikasi dan manipulasi lingkungan serta mengubah kebiasaan dan perilaku manusianya untuk pengurangan kontak vector inang pathogen. Keberhasilan dalam mengelola vector tergantung dari pemahaman manusia terhadap eksistensi dan esensi vector sebagai penularan penyakit DBD yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan inang. Keberadaan manusia dalam system tetrahedron itu dimaksudkan untuk melihat tanggung jawab dan komitmennya dalam pengelolaan lingkungan untuk tujuan memotong siklus hidup vector dan penyakit sehingga inang penyakit baik manusia maupun hewan peliharaannya dapat dicegah dan dikurangi kasus sakitnya.
Secara sosiologis individu manusia dan kelompok masyarakat merupakan modal manusia dan modal social yang perlu mendapatkan penekanan dalam system pengelolaan terpadu. Untuk itu partisipasi masyarakat sanagt penting dalam system PVT baik secara individu maupun kelompok. Selain itu kearifan local yang dimiliki oleh individu atau masyarakat perlu dipelajari sebagai modal budaya dalam penanggulangan DBD. Penggunaan model social tersebut pernah sukses untuk program KB dan system banjarnya. Modal social dan budaya tersebut sangat memungkinkan untuk mengefektifkan gerakan serentak pengendalian jentik nyamuk baik berkaitan dengan PSN atau aplikasi program 3M plusnya atau manajemen lingkungan untuk  mewujudkan kondisi bebas jentik di masing-masing rumah sebagai mana diterapkan Malaysia dan Singapura.
F.    Insektisida
Penggunaan suatu jenis pestisida ditujukan untuk mematikan suatu kelompok atau spesies hama dan patogen tertentu, tetapi pada hakekatnya bersifat racun terhadap semua organisme. Oleh karena itu penggunaan yang tidak terkontrol dan tidak selektif ditambah dengan masukan dari lingkungan budidaya, dapat berdampak negatif terhadap lingkungan maupun biota budidaya.
Malathion adalah insektisida organofosphat non-sistemik yang memiliki spektrum yang luas, dan mempunyai sifat yang sangat khas, yaitu dapat menghambat kerja kolinesterase terhadap asetilkolin (Asetilcholinesterase Inhibitor) di dalam tubuh. Malathion juga mempunyai sifat racun sangat tinggi (LC50-96 jam) pada ikan Rainbow trout 4,1 ppb dan 263 ppb pada Yellow perch (Martinez et al. 2004). Insektisida malathion membunuh insekta dengan cara meracun lambung, kontak langsung dan dengan pernapasan/uap. Dipergunakan untuk mengontrol banyak tipe insekta. Malathion juga mempunyai sifat toksis pada insekta yang cukup tinggi, sedangkan toksisitas pada mamalia relatif rendah, sehingga banyak digunakan. Penggunaan malathion secara luas untuk membasmi serangga dalam bidang kesehatan, pertanian, peternakan dan rumah tangga. Insektisida mengalami proses biotransformasi di dalam darah, hati, sedangkan tempat penimbunan utama di dalam jaringan lemak.
Malathion juga dapat menyebabkan perubahan bentuk, ukuran dan pecahnya sel limfosit. Selain itu malathion dapat menyebabkan degeneratif dan nekrose sel epitel tubulus ginjal pada tikus. Penelelitian yanga sama juga dilaporkan McCarthy dan Fuiman (2008) bahwa malathion dosis 0,1-1,0 ╬╝gl/l) mengganggu sintesis protein dan pertumbuhan larva ikan Red drum.
Insektisida malathion masuk ke lingkungan perairan dapat terjadi melalui berbagai jalur, antara lain pemakaian langsung yang residunya berada di udara dan tanah, limpasan dari persawahan. Pada saat hujan akan masuk ke kolam, tambak, daerah muara melalui saluran air.
Perairan pantai dan muara yang dangkal pada umumnya merupakan daerah yang sering terkena pencemar, yang mana ikan merupakan ikan yang hidup di pantai-pantai dan di muara sungai yang memiliki sifat euryhaline (perairan dengan variasi salinitasi) serta terhadap goncangan salinitas yang tinggi dalam waktu yang relatif singkat. Ikan bandeng berpotensi untuk terkontaminasi oleh insektisida malathion karena hidupnya di daerah pantai yang merupakan tempat bermuaranya polutan termasuk insektisida malathion. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai toksisitas akut, biokonsentrasi dan bioeliminasi insektisida malathion terhadap juvenil ikan bandeng.
 
BAB III
PEMBAHASAN
A.   Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Kelurahan Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Jawa Tengah pada bulan Juli 2007. Hasil pengamatan tentang knocdown time (KT50 & KT95 dan kematian nyamuk uji Ae. aegypti) setelah terpapar insektisida LADEN 500EC dosis 250, 500, 750 dan 1000 ml/ha, dengan pembanding insektisida RIDER 500EC (dosis 1000 ml/ha) dengan aplikasi pengasapan (thermal fogging) dengan pelarut solar, pengamatan di dalam dan di luar rumah. Disajikan pada tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Kematian (%), KT50 dan KT95 nyamuk Ae. aegypti setelah aplikasi pengasapan (thermal fogging) Insektisida LADEN 500EC (pelarut solar) di dalam dan di luar rumah
Dosis insektisida LADEN 500 EC (ml/ha)
Dalam Rumah

Luar Rumah

KT50

KT95

Kematian (%)

KT50

KT95

Kematian (%)

( menit)
( menit)
250
23,59
80,36
88,8
45,02
158,86
77,2
500
21,32
76,29
96,0
38,01
149,95
83,2
750
11,91
28,90
100
18,95
37,45
100
1000
8,10
16,65
100
14,32
24,76
100
Pembanding







Rider 500 EC
dosis 1000
9,30
17,08
100
14,72
28,26
100
Keterangan :
1) Uji probit waktu kelumpuhan nyamuk selama 60 menit pengamatan pasca pengasapan
2) LDN : LADEN 500 EC; RDR : RIDER 500EC

Tabel 2. Kematian (%), KT50 dan KT95 nyamuk Ae. aegypti setelah aplikasi pengasapan (thermal fogging) Insektisida LADEN 500EC (pelarut air) di dalam dan di luar rumah
Dosis insektisida LADEN 500 EC (ml/ha)
Dalam Rumah

Luar Rumah

KT50

KT95

Kematian (%)

KT50

KT95

Kematian (%)

( menit)
( menit)
250
23,89
82,98
88,0
45,75
163,39
76,4
500
24,13
73,58
95,2
39,74
139,72
82,4
750
18,14
45,20
100
25,21
65,93
100
1000
12,00
27,63
100
17,96
39,67
100
1000 (RDR)
14,82
38,84
100
21,45
48,77
100
250
23,89
82,98
88,0
45,75
163,39
76,4
Keterangan :
1) Uji probit waktu kelumpuhan nyamuk selama 60 menit pengamatan pasca pengasapan
2) LDN : LADEN 500 EC; RDR : RIDER 500EC
Berdasarkan perhitungan probit, waktu kelumpuhan = KT50 insektisida LADEN 500EC dosis (500, 750 dan 1000 ml/ha) pelarut solar, terhadap Ae. aegypti di dalam rumah, masing-masing adalah 21,32; 11,91 dan 8,10 menit, sedangkan RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha sebagai pembanding adalah 9,30 menit. Tetapi kematian nyamuk Ae. aegypti di dalam rumah setelah pengasapan insektisida LADEN 500EC dosis 750 dan 1000 ml/ha, serta pembanding RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha adalah 100%. Waktu kelumpuhan KT50, insektisida LADEN 500EC dosis (500, 750 dan 1000 ml/ha) pelarut solar, terhadap Ae. aegypti di luar rumah, masing-masing adalah 38,01; 18,95 dan 14,32 menit, sedangkan RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha sebagai pembanding adalah 14,72 menit. Kematian nyamuk Ae. aegypti di luar rumah setelah pengasapan LADEN 500EC dosis 750 dan 1000 ml/ha, maupun pembanding RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha adalah 100%.
Perlakuan insektisida LADEN 500EC (pelarut solar) terhadap nyamuk Ae. aegypti, pada analisis probit (waktu kelumpuhan KT50), insektisida LADEN 500EC dosis (500, 750 dan 1000 ml/ha) pelarut air, terhadap nyamuk uji Ae. aegypti di dalam rumah, masing-masing adalah 24,13; 18,14 dan 12,00 menit, sedangkan RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha sebagai pembanding (pelarut air) adalah 14,82 menit. Kematian nyamuk uji Ae. aegypti di dalam rumah aplikasi pengasapan LADEN 500EC dosis 750 dan 1000 ml/ha (pelarut air) adalah 100% sebanding dengan RIDER 500EC (pelarut air) dosis 1000 ml/ha. Perhitungan probit, insektisida LADEN 500EC dosis (500, 750 dan 1000 ml/ha) pelarut air, waktu kelumpuhan KT50 terhadap Ae. aegypti di luar rumah, masing-masing adalah 39,74; 25,21 dan 17,96 menit, sedangkan RIDER 500EC (pelarut air) dosis 1000 ml/ha sebagai pembanding adalah lebih lambat daripada LADEN 500EC dosis 1000 ml/ha 21,45 menit. Kematian nyamuk uji Ae. aegypti di luar rumah setelah pengasapan insektisida LADEN 500EC dosis 750 dan 1000 ml/ha, adalah 100%, sama dengan pembanding RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada kematian jentik nyamuk Ae. aegypti setelah aplikasi pengasapan insektisida LADEN 500EC (dosis 250, 500, 750 dan 1000 ml/ha) dan insektisida RIDER 500EC dosis 1000 ml/ha (pelarut solar maupun air) baik di dalam maupun di luar rumah. Pada analisis statistik dengan uji X2, terbukti ada perbedaan kematian yang bermakna pada tiap-tiap dosis yang diuji (P<0 1000="1000" 500="500" 500ec="500ec" 750="750" ada="ada" air="air" b.a="b.a" bermakna="bermakna" dalam="dalam" dan="dan" dilarutkan="dilarutkan" dosis="dosis" efektif="efektif" g="g" ha="ha" insektisida="insektisida" l="l" laden="laden" malathion="malathion" maupun="maupun" ml="ml" p="p" pada="pada" perbedaan="perbedaan" solar="solar" tetapi="tetapi" tidak="tidak" yaitu="yaitu" yang="yang">0,05), artinya dosis tersebut mempunyai kemampuan yang sama untuk membunuh nyamuk nyamuk Ae. Aegypti.
B.   Faktor Penyebab dan Dampak terhadap Kesehatan
 Thermal fogging terbukti efektif dalam pengendalian vector demam berdarah dengue karena menggunakan bahan kimia berupa insektisida laden (b.a Malathion 500 g/l), dosis 750 dan 1000 ml/ha (dilarutkan dalam solar maupun air). Malathion adalah insektisida organofosphat non-sistemik yang memiliki spektrum yang luas, dan mempunyai sifat yang sangat khas, yaitu dapat menghambat kerja kolinesterase terhadap asetilkolin (Asetilcholinesterase Inhibitor) di dalam tubuh. Malathion juga mempunyai sifat racun sangat tinggi (LC50-96 jam) pada ikan Rainbow trout 4,1 ppb dan 263 ppb pada Yellow perch (Martinez et al. 2004). Insektisida malathion membunuh insekta dengan cara meracun lambung, kontak langsung dan dengan pernapasan/uap. Dipergunakan untuk mengontrol banyak tipe insekta. Malathion juga mempunyai sifat toksis pada insekta yang cukup tinggi, sedangkan toksisitas pada mamalia relatif rendah, sehingga banyak digunakan.. Penggunaan malathion secara luas untuk membasmi serangga dalam bidang kesehatan, pertanian, peternakan dan rumah tangga. Insektisida mengalami proses biotransformasi di dalam darah, hati, sedangkan tempat penimbunan utama di dalam jaringan lemak.
Pelaksanaan thermal fogging memiliki banyak dampak negative. Dampak negative yang dapat ditimbulkan thermal foging yaitu sebagai polutan yang mencemari makanan, air minum dan lingkungan rumah setelah pelaksanaan fogging dapat mengganggu kesehatan warga baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada saat akan dilakukan fogging warga dihimbau untuk menutup rapat-rapat makanan, air minum, air mandi, piring, gelas, sendok dsb. Dalam hal ini belum semua warga melaksanakannya, bahkan pada saat fogging masih banyak warga yang tidak mau keluar rumah, ada anak-anak yang mengikuti penyemprot dan ada warga memasuki rumah sebelum asap fogging di dalam rumah habis. Selain itu Fogging memerlukan biaya cukup besar (± Rp. 1.900.000 untuk fogging radius 200 meter) dan tenaga yang cukup banyak dan terlatih (tidak efisien). Sedangkan daya bunuhnya hanya 1 – 2 hari, setelah itu nyamuk akan menjadi banyak lagi dan akan mudah menularkan demam berdarah dengue.
Pelaksanaan fogging pada umumnya memberikan kepuasan semu pada warga, sehingga merasa aman dan tidak melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) lagi. Meski begitu terdapat beberapa dampak dari thermal fogging menurur Inten yaitu :
1.    Kandungan mala-thion pada asap fogging dapat menyebabkan kelainan saluran cerna (gastrointestinal) dan bagi wanita hamil yang ter-papar malathion risiko kelai-nan gastrointestinal pada anaknya 2,5 kali lebih besar.
2.    Paparan malation ini juga mengakibatkan Leukemia pada anak-anak, Aplastik anemia, gagal ginjal, dan defek pada bayi baru lahir. Bahkan juga berperan dalam kerusakan gen dan kromosom, kerusakan paru serta penurunan sistem kekebalan tubuh.
3.    Penelitian juga menyimpulkan malation mempunyai peran terhadap 28 gangguan pada manusia, mulai dari gangguan gerakan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak.
C.   Solusi
Melihat banyaknya dampak negative dari thermal fogging maka harus dilakukan pembatasan dalam penggunaannya. Pembatasan tersebut dapat berupa pengendalian vector secara kimiawi yang beriringan dengan pengendalian vector demam berdarah dengue lainnya seperti :
1.      Pengendalian fisik/mekanis yaitu segala upaya pengendalian DBD menggunakan fisik seperti mengenakan pakaian yang serba tertutup guna menghindari gigitan nyamuk dewasa. Sedangkan untuk pengendalian fisik aquatic yaitu melaksanakan prisip 3M minimal sekali seminggu.
2.      Pengendalian biologis ditujukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pemakaian insektisida yang berasal dari bahan-bahan beracun. Contoh pendekatan ini adalah pemeliharaan ikan untuk pengendalian vector DBD aquatic.
3.      Pengendalian biofisik yaitu merupakan gabungan dari pengendalian biologis dan pengendalian fisik.
4.      Pengendalian secara undang-undang yaitu dengan berbagai usaha atau program pemerintah guna mengendalikan vector DBD. Namun bukan berarti ada peraturan dan sanksi yang diperoleh jika tidak melakukan program tersebut.
5.      Penegndalian terpadu/terintegrasi.
 BAB IV
PENUTUP
A.    Simpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1.    Dosis efektif dari thermal fogging dalam pengendalian aedes aegypti sebagai vector demam berdarah dengue yaitu insektisida LADEN 500EC (b.a Malathion 500 g/l) dosis 750 dan 1000 ml/ha baik dilarutkan dalam solar maupun air.
2.    Dampak kesehatan dari thermal fogging yaitu merupakan polutan dan mnyebabkan berbagai kelainan dalam tubuh manusia.
3.    Karena thermal fogging memiliki dampak terhadap kesehatan maka sudah seaharusnya pengendalian demam berdarah dengue menggunakan thermal fogging diminimalisir dan dilakukan beriringan dengan pengendalian biologis, genetic dan lingkungan.
B.   Saran
Berdasarkan simpulan, direkomendasikan agar thermal fogging dilakukan hanya pada lokasi yang sedang terjadi penularan demam berdarah dengue dan harus didahuli dan diikuti gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serentak.
 
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Choirul. 2008. Fogging Bukan Solusi Terbaik lakukan 3M. http://mediainfokota.jogjakota.go.id/detail.php?berita_id=126. (7 September 2012)
Boesri, Hasan dan Damar tri Boewono. 2007. Jurnal  Pengendalian nyamuk Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus denagn Penyemprotan Sistem Pengasapan (thermal fogging) menggunakan Insektisida Laden 500EC. (9 September 2012)
Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. (8 September 2012)
Daun, Anwar. 2005. Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Hasanuddin University Press. Makassar. (7 September 2012)
Intan. 2010. Dampak Fogging. http://bungajepun.blogspot.com/2010_03_01_archive.html. (7 September 2012)
Permai, Indah. 2010. Demam Berdarah Dengue. http://wadung.wordpress.com/2010/03/22/makalah-demam-berdarah-dengue/. (9 September 2012)
Yuiana, Mareta. 2008. Satuan Penyuluhan Penyakit DBD. http://ners-blog.blogspot.com/2011/10/satuan-penyuluhan-penyakit-dbd.html (9 September 2012)


Makalah Ramdani